Mutiara Hadist

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Seuntai Kenangan

Selasa, 03 Juli 2007

Malu Pada Allah

“Jika engkau tidak merasa malu, berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Abu Daud)
Hadist ini memberikan petunjuk berharga kepada kita bahwa kendali moral itu terletak pada rasa malu. Jika seseorang sudah tidak lagi memiliki rasa malu, niscaya pelanggaran hukum dan moral menjadi hal biasa, tanpa ada rasa bersalah dan dosa.
Malu pada tempatnya adalah kunci keutamaan. Rasa malu membuat seorang muslim bersikap hati-hati untuk tidak melanggar larangan Allah SWT. Rasa malu mengantarkan kita pada sikap Iffah, yaitu memelihara diri dari sifat tidak terpuji dan menjaga martabat bagi seorang muslim, sehingga kita selalu menjauhi perbuatan maksiat dan dosa.

Rasulullah pernah memberikan nasihat kepada para sahabatnya, “Hendaklah kalian merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.” Para sahabat menimpali, “Allhamdulilah kami sudah merasa malu kepada Allah.” Rasulullah lalu menyatakan, “Tidak, kalian belum merasa malu. Orang yang betul-betul mersa malu kepada Allah hendaklah menjaga kepala berikut isinya (pikiranya), menjaga perut berikut isinya (makanan), dan hendaklah mengingat mati dan bencana, siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat, hendaklah meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang sudah melakukan itu semua, berarti telah betul-betul mempunyai rasa malu kepada Allah.”(HR. At-Tirmidzi).

Sungguh kesadaran untuk merasa malu kepada Allah itu sangat penting, baik bagi rakyat, lebih-lebih bagi pejabat. Sebagai rakyat kita merasa malu kepada Allah karena belum sepenuhnya mampu menaati perintah dan larangan-Nya dan belum mampu berbuat banyak untuk kemajuan bangsa. Para pejabat mestinya juga merasa malu kepada Allah karena banyak amanah rakyat yang belum di wujudkan. Janji-janji sewaktu kampanye belum banyak dilaksanakan. Kebijakan yang diambil masih banyak melukai rasa keadilan rakyat.

Malu itu perisai diri. Merasa malu kepada Allah berarti membentengi diri dengan meneladani akhlak Allah sebagaimana tercermin dalam Asmaul Husna. Rasulullah adalah teladan pemimpin yang memiliki rasa malu kepada Allah yang sangat tinggi, sehingga beliau tidak mau merepotkan rakyatnya.

Jadi, mari kita malu pada tempatnya. Malu jika anak kita rajin shalat, sementara kita tidak. Malu jika banyak anak negri ini tidak dapat bersekolah, sementara kita yang kebetulan wakil rakyat atau pejabat publik sibuk minta fasilitas. *Republika
Baca Selengkapnya..

Jumat, 08 Juni 2007

Al Quran Sebagai Pembela di Akhirat

Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"

Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua Ayah dan Ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"

Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
Baca Selengkapnya..

Selasa, 10 April 2007

Ikhlas Dalam Beramal

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsah Umar bin Khatab ia berkata aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan seseorang akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijranya kepada Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasulnya dan barang siapa yang hijrahnya untuk kesenangan dunia yang didapatnya, atau karena wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang diniatkannya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Niat merupakan suatu keharusan dalam suatu perbuatan baik itu yang ditujukan pada perbuatan itu sendiri, seperti shalat, maupun sesuatu yang menjadi sarana bagi perbuatan lainnya, misalnya thaharah (bersuci). Yang demikian itu, karena ikhlas tidak tergambar wujudnya tanpa adanya niat. Niat itu tempatnya didalam hati dan tidak perlu dilafazhkan dengan lisan. Yang demikian itu sudah menjadi kesepakatan para ulama, dalam semua ibadah, thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, pemerdekaan budak, jihad dan ibadah-ibadah lainnya.

Ikhlas karena Allah swt merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan sebab Allah swt tidak akan menerima amal perbuatan kecuali yang paling tulus dan benar.

Jadi Syarat diterimanya Amal ibadah adalah:
1. Ikhlas hanya mengharap Ridha Allah swt dan
2. Benar, adapun ukuran kebenarannya adalah mengikuti tuntunan Rasul (Itiba kepada Rasul) (Suber Syarah Riyadush Shalihin)
Baca Selengkapnya..